Di tengah hiruk pikuk Jakarta, atau bahkan di warung kopi di pelosok desa, ada satu perbincangan yang sering terdengar: “Daya beli masyarakat sedang turun.” Para ekonom sibuk menganalisis angka-angka makro, melihat pertumbuhan ritel yang melambat, dan merasa cemas.
Namun, di balik data ekonomi yang muram, Google Indonesia (bersama Bain, Perusahaan konsultan manajemen global & Temasek, Sovereign wealth fund milik Pemerintah Singapura) justru menemukan sebuah Peta Harta Karun yang tersembunyi. Mereka membongkar sesuatu yang tidak dilihat oleh kebanyakan orang: Perilaku masyarakat Indonesia sudah berubah TOTAL.
Inilah cerita tentang sebuah dunia baru yang tumbuh cepat di balik layar, membangun sebuah ekonomi yang jauh lebih besar dari yang kita duga.
Apa yang Tidak Dilihat Para Ekonom?
Bagi ekonom, yang penting adalah Daya Beli—seberapa besar kemampuan uang Anda untuk membeli barang. Namun, bagi praktisi, ada satu kekuatan lain yang jauh lebih magis: Keinginan Membeli (Willingness to Spend).
Meskipun banyak yang merasa uangnya semakin sedikit, anehnya, permintaan untuk hal-hal yang non-primer justru melonjak.
💡 Contoh Nyata yang Tak Terlihat: Tahukah Anda? Penjualan makanan kucing di Indonesia naik 15% tahun ini! Makanan kucing, pernak-pernik hewan peliharaan, hingga item dalam game (in-game purchases) adalah barang-barang yang tidak masuk hitungan “kebutuhan primer.” Tetapi, masyarakat kita bersedia mengeluarkan uang lebih untuk hal-hal yang memberi mereka kebahagiaan, hiburan, atau identitas di dunia maya.
Ini adalah pergeseran pola pikir dari “harus” menjadi “mau.” Orang-orang kini menginvestasikan uangnya pada experience dan koneksi di dunia digital, menciptakan e-conomy (ekonomi digital) yang diperkirakan mencapai 100 Miliar US Dollar pada 2025.
Rhenald Kasali menyoroti bahwa survei ekonomi tradisional mungkin tidak lengkap karena hanya fokus pada dunia real dan tidak menangkap aktivitas ekonomi dan permintaan yang besar di dunia digital. Terjadi Pertumbuhan Ekonomi Digital yang Masif: Data menunjukkan pertumbuhan pesat di sektor-sektor non-primer (e-commerce, video commerce, gaming), yang bertentangan dengan narasi kelesuan ekonomi secara keseluruhan.
Tiga Kekuatan Eksponensial yang Mengubah Total
Perubahan total ini tidak terjadi tiba-tiba. Ada tiga mesin raksasa yang bekerja bersama-sama, mendorong pertumbuhan ekonomi digital:
1. Perubahan Cara Berbelanja: Gelombang Video Commerce
Dulu, belanja online berarti membuka marketplace, membandingkan harga, lalu membeli. Sekarang? Kita berbelanja sambil dihibur.
- Indonesia adalah juara dunia dalam Video Commerce. Ada 2,6 Miliar transaksi yang terjadi melalui video, tumbuh 90% setahun.
- Kita tidak lagi hanya menonton video tutorial, kita menonton live selling, review produk dari kreator favorit, dan langsung membelinya saat itu juga. Kepercayaan pada content creator jauh lebih kuat daripada iklan biasa.
2. Perubahan Cara Bertransaksi: Cashless Jadi Raja
Sekitar 60% transaksi kini dilakukan secara cashless berkat kemudahan QRIS. Uang tunai hanya tersisa 40%. Ini menunjukkan betapa cepatnya masyarakat beradaptasi dengan sistem pembayaran digital. Aliran uang menjadi lebih cepat, efisien, dan transparan.
3. Perubahan Cara Bekerja & Belajar: Kecerdasan Buatan (AI)
Adopsi Kecerdasan Buatan (AI) di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Kita sangat optimis dan terbuka.
- Pendapatan dari aplikasi yang menggunakan fitur AI melonjak 127%. Ini berarti kita bersedia membayar untuk layanan yang membuat kita lebih pintar, lebih cepat, atau lebih kreatif.
- AI kini bergeser dari sekadar alat pembuat konten (Generative AI) menjadi Agen Cerdas (Agentic AI) yang bisa membantu kita menyelesaikan tugas kompleks (misalnya, merencanakan perjalanan lengkap hanya dengan satu perintah).
Membangun Awareness dan Aksi Nyata
Apa yang harus kita sadari dari semua perubahan ini? Bahwa hari ini, kita semua hidup dalam sebuah Ekosistem Digital yang baru. Jika dulu persaingan adalah antar-bank atau antar-toko, kini persaingan adalah antar-ekosistem.
- Untuk Pelaku Bisnis: Jangan hanya fokus pada toko fisik. Pikirkan cara mengintegrasikan produk Anda dengan ekosistem digital: Apakah produk Anda sudah video-commerce ready? Apakah Anda bekerja sama dengan kreator?
- Untuk Orang Tua & Pendidik: Pahami bahwa belajar dan mencari nafkah tidak lagi terperangkap di ruang kelas atau kantor. Lindungi anak dengan menguasai fitur smart parenting (seperti Family Link) dan ajari mereka cara menggunakan YouTube/AI sebagai alat belajar yang produktif, bukan hanya hiburan.
- Untuk Pemerintah & Regulator: Kebijakan tidak bisa one-size-fits-all. Harus ada pembedaan antara konten edukasi/produktif dengan konten yang adiktif, karena dunia digital adalah sumber lapangan kerja baru bagi jutaan anak muda.
Keahlian (Skills) Baru yang Dibutuhkan (Siap Copy-Paste)
Jika ini adalah Peta Harta Karun baru, maka kita perlu alat baru untuk menggali dan menguasainya. Ada tiga keahlian utama yang harus dikuasai oleh generasi muda dan profesional hari ini:
- Literasi Kritis & Verifikasi
- Dengan adanya deepfake dan misinformasi, kemampuan untuk tidak langsung percaya pada apa yang dilihat atau didengar menjadi skill paling dasar. Selalu cek silang informasi dengan sumber yang otoritatif.
- Integrasi AI (AI Fluency)
- Ini adalah keahlian yang harus dimiliki, terlepas dari bidang pekerjaan Anda (ekonomi, kimia, seni, dll.). Bagaimana Anda bisa menggabungkan ilmu di bidang Anda dengan AI untuk menghasilkan solusi atau produk baru? Ini akan menjadi pembeda antara yang relevan dan yang tergilas.
- Kreatif Komersial (Video & Content Skill)
- Di era video commerce, kemampuan untuk bercerita, membuat konten yang menarik, dan membangun kepercayaan (trust) secara digital adalah mata uang baru. Anda tidak harus menjadi selebriti, cukup menjadi sumber informasi yang jujur dan menarik.
Perubahan ini sudah terjadi, bukan janji di masa depan. Mereka yang beradaptasi dan menguasai peta ini akan menjadi pemimpin di e-conomy raksasa Indonesia.
Judi Online (Judol)
Dari data di atas, ada tambahan data yang tidak termasuk dan sangat berpengaruh pada lesunya ekonomi, yaitu kegiatan Judi Online.
Gaji masuk, transfer jalan, saldo muter. Tapi coba dilihat lebih dekat, sebagian uang itu nggak mampir ke warung, UMKM, atau jasa, melainkan nyangkut di judi online. Awalnya iseng, receh, cuma coba-coba. Tapi lama-lama, uang yang seharusnya berputar di dunia nyata malah terkunci di layar—pindah dari satu akun ke akun lain, tanpa pernah berubah jadi barang, jasa, atau kerja nyata. Judi online bukan sektor primer, bukan juga sektor jasa produktif. Ia hidup dari satu hal: menghisap perputaran uang tanpa menciptakan nilai baru.
Skalanya pun bukan main. Data PPATK menunjukkan bahwa sepanjang 2025, nilai transaksi judi online di Indonesia masih diperkirakan mencapai sekitar Rp155 triliun. Memang turun dibanding 2024 yang tembus Rp359 triliun, tapi angka itu tetap absurd besar. Artinya, meski sudah ditekan, aliran uang ke judi online masih deras. Ini bukan lagi soal oknum, tapi soal arus uang massal yang salah jalur—uang rakyat yang berhenti berputar di sektor riil dan masuk ke sistem digital yang tertutup.
Yang bikin lebih miris, data kuartal pertama 2025 menunjukkan pemain judi online banyak datang dari kelompok berpenghasilan rendah. Uang yang harusnya buat makan, belanja, atau modal kecil, justru habis di transaksi spekulatif. Efeknya pelan tapi terasa: konsumsi melemah, usaha kecil sepi, daya beli turun. Ekonomi terasa lesu bukan karena orang nggak punya uang, tapi karena uangnya lari ke tempat yang salah—ke aktivitas non-produktif yang tidak meninggalkan apa pun, selain saldo nol dan masalah baru.
Pinjaman Online (Pinjol)
Tidak hanya Judi Online saja, Pinjaman Online juga berkontribusi dalam menguras dana masyarakat hanya untuk bayar hutang, bukan mengalir pada sektor riil.
Awalnya kelihatan normal. Hidup makin mahal, gaji segitu-gitu aja. Lalu muncul solusi cepat di layar HP: “Pinjaman cair dalam 5 menit.” Banyak orang akhirnya masuk ke pinjol bukan buat buka usaha atau bikin sesuatu yang produktif, tapi buat nutup kebutuhan hari ini—bayar kos, makan, cicilan, atau sekadar bertahan sampai gajian. Uangnya memang masuk, tapi cuma sebentar. Begitu cair, uang langsung habis, dan yang tersisa justru kewajiban baru.
Masalahnya kelihatan di bulan-bulan berikutnya. Saat gaji turun, uang itu nggak muter ke mana-mana. Bukan ke warung, bukan ke UMKM, bukan ke jasa. Ia langsung mengalir ke cicilan pinjol: bunga, biaya layanan, denda. Data OJK menunjukkan bahwa sepanjang 2025, total utang pinjol masyarakat masih berada di kisaran puluhan hingga mendekati seratus triliun rupiah. Itu artinya, ada arus uang yang besar yang berhenti sebagai kewajiban finansial, bukan sebagai konsumsi atau aktivitas produktif yang menghidupkan sektor riil.
Lama-lama, pinjol bukan lagi jembatan, tapi terminal akhir uang masyarakat. Untuk banyak orang, satu pinjol tidak cukup. Tutup lubang pakai lubang. Uang tidak pernah benar-benar “masuk” ke ekonomi nyata, karena sejak awal sudah dialokasikan untuk membayar utang. Di titik ini, ekonomi terasa sepi bukan karena orang nggak punya uang, tapi karena uangnya habis duluan di sistem keuangan jangka pendek yang minim efek domino. Sektor riil kehilangan perputaran, sementara masyarakat terjebak di lingkaran yang makin sempit.
Penutup
Artikel ini dibuat untuk kepentingan dan catatan pribadi penulis dalam membuat poin-poin penting yang ingin diingat dan dipahami. Serta sekaligus sebagai sarana menambah wawasan dan meng-upgrade diri menjadi lebih baik.
Referensi artikel
- Video “Google Bongkar yang Tidak Dilihat Ekonom: Perilaku Orang Indonesia Sudah Berubah TOTAL” di Akun Youtube “Prof. Rhenald Kasali“, perbincangan dengan Veronika Utami (Country Director Google Indonesia).
- Buku “Total Sukses – Meraih Keberhasilan Sejati” karangan Bapak “Anand Krishna“.
Bagi yang benar-benar merasakan manfaat dari catatan kecil ini, bagikan artikel ini kepada yang lain.